Basa basi diri

Foto Saya
Dodi Faedlulloh
Menulis dan provokasi . Menghabiskan waktu dengan para kepompong yang setia menemani Saya dalam hitam dan putih. Bersama mereka mencurahkan unek-unek yang ada dalam hati agar tidak dipendam terus .Menyebarkan semangat perubahan mulai dari orang-orang terdekat, ah tidak !! tepatnya mulai dari diri Saya sendiri.
Lihat profil lengkapku

Sekilas Blog

Sekedar catatan kecil tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasa.
Bookmark and Share

Parlemen Online, Kekuatan Baru Demokra(tisa)si Indonesia

Oleh : Dodi Faedlulloh

Tercatat dalam sejarah Indonesia sebelas tahun lalu (1998) muncul satu gerakan mahasiswa yang dapat menurunkan satu rezim yang berkuasa. Mereka melakukan aksi turun ke jalan menyuarakan aspirasinya. Banyak kalangan menyebut aksi ini sebagai parlemen jalanan (tentu karena aksi dilakukan dijalanan). Parlemen jalanan ini dianggap berhasil sebagai wadah untuk mengaspirasikan suara rakyat yang menuntut perubahan.

Kondisi yang hampir sama dengan sebelas tahun yang lalu, sekarangpun partai politik (masih) dianggap mandul dan parlemen (legal) dirasakan tidak lagi mau memperjuangkan aspirasi rakyat. Rakyatpun akhirnya merasa gerah dan kecewa karena suara hatinya tidak ada yang mendengar, tapi ternyata rakyat kini lebih pintar dan adaptif dengan perubahan zaman, mereka tetap berusaha meminta haknya untuk tetap bersuara dan mencari keadilannya sendiri, ya walaupun dengan media yang lain.

Ruang baru untuk menyalurkan aspirasi tersebut tiada lain adalah public cyberspace. Media alternatif ini ternyata mampu menggantikan kekuatan massa rakyat. Ruang maya publik memberi kesempatan bagi rakyat untuk ikut berpartisipasi dalam pertikaian sosial politik. Seperti permasalahan saat ini yang sedang hangat-hangatnya menjadi berita utama di media massa, kasus dugaan kriminalisasi KPK. Para pengguna jejaring sosial facebook bersama-sama bergabung dalam satu “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto". Sungguh sangat luar biasa, sampai risalah ini Saya tulis (9/11/2009 pukul 21.30 wib) gerakan ini sudah beranggotakan lebih dari satu juta seratus ribu tiga puluh facebooker (angka tepatnya Saya lupa lagi, Saya yakin akan terus bertambah). Gelombang dukungan dari facebookers inilah yang disebut sebagai ”parlemen online” .

Walaupun tidak tersrtuktur,angka tersebut tentu cukup representatif (kurang lebih 10% dari facebooker Indonesia), menujukan ketidakpuasan publik terhadap pertanggungjawaban para elite politik. Facebookers tersebut merubah diri menjadi kekuatan baru sebagai pressure group dan penyalur aspirasi rakyat yang sesungguhnnya. Kekuatan nonfisik ini memberi tekanan karena dapat memberikan kekuatan moral. Fenomena “parlemen online” dimanfaatkan rakyat sebagai sarana kebebasan dalam mengekspresikan ide, unek-unek, kekesalan serta kemarahan terhadap para wakilnya.

Parlemen online adalah jawaban disaat komunikasi rakyat dan pemerintah mengalami kebuntuan. Parlemen online bisa menjadi kekuatan baru dalam kehidupan demokra(tisa)si di Indonesia. Jika digunakan secara benar dan proporsional sesuai substansi manfaat ini bisa menjadi layaknya obat bagi penyembuhan kembali sistem demokrasi yang sedang sakit dalam masyarakat kita. Ini dianggap lebih jujur , relatif bersih dari kontaminasi berbagai kepentingan serta benar-benar dapat memperlihatkan suara rakyat yang sebenanya. Rakyat bisa turut langsung berpartisipasi dan bebas beraspirasi sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dengan adanya parlemen online rakyat tentunya akan sangat mudah juga dalam menilai kinerja pemerintahan.

Kini dengan adanya fenomena “parlemen online” justru muncul (lebih tepatnya memperlihatkan dengan jelas) satu pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah untuk segera diselesaikan. Kenapa ? Ya tentu, karena latar belakang adanya parlemen “baru” itu sendiri adalah ketidakpuasan dan kekecewaan rakyat terhadap pemerintahnya yang tak mampu mengelola dengan baik institusi-institusi negara sesuai dengan kepentingan dan tujuan publik. Jadi selamat berjuang kembali pemerintah ! Rakyat tak ingin dikecewakan lagi. []

Tentang Penulis :
Adalah mahasiswa jurusan Administrasi Negara FISIP Unsoed Purwokerto sks 2007.
Read More......
Bookmark and Share

Saya “Bosan” Dengar Berita Itu

Oleh : Dodi Faedlulloh

Pagi ini Saya kembali menyalakan televisi sembari minum teh manis hangat yang telah menjadi rutinitasku. Lagi, berita itu masih terus bergaung dimedia. KPK versus Polri atau Polri versus KPK ? Ah sama saja, entah kenapa walaupun mata ini terus menyaksikan berita tersebut hati ini melafalkan kata “bosan”. Sambil berpikir diantara mereka pasti ada yang bohong, pasti !! Diantara orang-orang yang terkait dengan masalah tersebut sudah pasti ada yang berbohong. Timbulah satu pertanyaan , “Siapa pihak yang berbohong ?”, sampai saat ini belum ada yang tahu karena satu sama lain saling mengklaim mereka paling benar.

Jengah ! Kata itu muncul dari lisanku. Saya adalah salah seorang dari jutaan masyarakat biasa yang pastinya merasa kecewa karena kini apa yang namanya hukum di Indonesia sudah tidak berdiri tegak membela kebenaran. Dunia ini bukan kisah sinetron yang dimana pihak yang benar selalu menang di episode terakhir, di negeriku orang yang benar belum tentu bisa menang. Yah sungguh sayang memang. Keadilan publik ? huh kata itu sudah melayang tampaknya.

Ditanya oleh teman, “Dod, kata kamu siapa sih yang salah KPK atau POLRI ?”, Saya Cuma bisa menggelengkan kepala, “mana ku tahu sob” jawabku sambil tersenyum. Memang seperti itu adanya, Saya tidak benar-benar tahu pihak mana yang salah, oleh karena itu ketika dikampusku sedang menyelenggarakan aksi mendukung KPK, Saya hanya ikut bertanda tangan sambil menulis kata yang cukup kasar kepada pihak-pihak yang ingin menghancurkan eksistensi KPK. Dalam pikiran awamku KPK janganlah sampai lenyap dibumi pertiwi sebelum yang namanya korupsi hilang.

Perihal dugaan penyalahgunaan wewenang yang dikenakan kepada KPK,kalau dijawab secara hukum formal memanglah pasti berbetur . Tapi apakah yang namanya legalitas formal harus dilaksanakan secara rigid tanpa melhat bagaimana niatan baik dan sisi manusiawi yang ada. Saya kira kini pihak yang disakiti hatinya bukan hanya “mereka” yang disebut-sebut dalam masalah itu, tapi juga pastinya publik akan sangat tersakiti bila nanti yang “menang” justru adalah pihak-pihak yang kuat dan berduit. Kata “menang” Saya sebut karena keadilan kini memang seperti suatu pertandingan yang harus diperebutkan bukan diberikan kepada secara proposional kepada pihak yang benar.

Muncul dugaan ada pihak lain yang memang ingin (semakin) menghancurkan Indonesia, bisa jadi dan harus diselidiki lagi secara berlanjut oleh pihak yag berwenang. Ah semakin lama dipikirkan makin susah memang kalau terus memikirkan nasib bangsa ini. Teh manis hangat ini akhirnya habis tanpa setetespun bersisa tapi berita itu masih terus berlangsung dan semakin memanas saja. Saya masyarakat biasa cuma bisa berharap semoga konflik ini segera selesai dan tak ada lagi hal-hal yang menyakiti publik seperti ini. (6/11/2009) Read More......
Bookmark and Share

Ada Apa dengan Pendidikan Indonesia ?

Oleh : Dodi Faedlulloh

Berbicara tentang pendidikan, saya jadi teringat pengalaman saat masih berseragam putih abu, kurang lebih dua tahun yang lalu. Suatu ketika ibu kepala sekolah pergi berkunjung ke negeri kangguru, Australia, untuk mengadakan study tour. Sesampainya kembali di sekolah Beliau sedikit menceritakan pengalamannya saat berada disana. Beliau merasa heran ketika melihat beberapa sekolah yang ada disana bentuk bangunannya tidak seperti yang biasanya ada di Indonesia, yakni tidak ada pagar pembatas atau semacamnya. Kemudian Beliau pun berinisiatif menanyakan hal tersebut kepada salah seorang guru Australia yang ada disana. Seorang guru tersebut menjawab pertanyaan ibu kepala sekolah sembari tersenyum. "Kami mengajar manusia, bukan hewan !" jawabnya. Tentu jawaban tersebut sedikit mengagetkan. Mereka tidak mengajar hewan, jadi tidak perlu merasa khwatir anak didiknya akan pergi kabur saat jam pelajaran, kurang lebih seperti itulah yang dapat disimpulkan dari pengalaman Beliau saat pergi study tour ke Australia.

Miris juga memang, kontras dengan situasi sekolah di Indonesia. Hampir semua bentuk bangunan sekolah yang ada di Indonesia pasti selalu dibatasi dengan tembok-tembok tinggi ataupun pagar. Tujuannya tentu untuk menjaga "keamanan". Keamanan disini lebih berorientasi kepada keamanan agar para peserta didik tentunya tidak mudah keluar (kabur-red) saat jam pelajaran. Tidak perlu menyangkal, fakta dilapangan memang berbicara seperti itu. Fenomena "melarikan diri" dari pelajaran sudah jamak dilakukan oleh para siswa Indonesia. Beberapa sahabat saya ketika SMA adalah pelaku setianya, dengan alasan yang beragam, ada yang memang benci mata pelajarannya, tidak suka akan pengajarnya atau mungkin sekedar iseng.

Tentu semua pihak tidak akan setuju kalau para siswa di Indonesia disamakan dengan hewan. Akan tetapi dari hal tersebut muncul pertanyaan yang harus segera dijawab, "Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita?" Secara empiris metode pendidikan di Indonesia dalam perihal kurikulum telah beberapa kali berganti (diharapkan) sesuai dengan dinamika perubahan zaman. Akan tetapi secara substansi perubahan-perubahan tersebut tidak begitu siginifikan. Metode yang telah ada patutnya masih dianggap sebagai tahap pengajaran belum sampai ke level pendidikan. Istilah guru kencing berdiri murid kencing berlari masih bisa dijadikan sebagai acuan yang tepat untuk kondisi pendidikan di Indonesia. Guru masih dianggap sebagai mahluk yang sempurna oleh para anak didiknya, oleh karena itu seharusnya (idealnya-red) para guru tidak hanya sekedar mentrasfer materi-materi pelajaran dan mengaplikasikan peraturan-peraturan secara kaku, para pendidik juga dituntut untuk bisa memberikan suatu contoh yang baik pula bagi para siswanya.

Menurut beberapa pengamat pendidikan, sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia lebih menekankan kepada aspek intelegensi para siswa saja. Bila seorang siswa telah pintar dan berprestasi secara akademis maka pihak sekolah dianggap telah berhasil menggapai tujuan. Hal-hal yang berbau akademis seperti lebih diprioritaskan sedangkan aspek moralitas dan mentalitas seakan sedikit terabaikan. Para peserta didik terus dicekoki materi-materi pelajaran bahkan tidak sedikit para siswa menganggap materi-materi tersebut menyebabkan over load sehingga tentunya mereka tidak bisa memahami materi-materi tersebut secara keseluruhan.

Sistem pendidikan di Indonesia harus segera dibenahi, mental dan moral harus dijunjung tinggi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sudah barang tentu pemerintah sebagai pemilik kewenangan tertinggi dan pihak sekolah sebagai implementor mempunyai kewajiban dalam pembenahan sistem-sistem ini. Pada dasarnya dalam kehidupan harus dijalani secara balance, begitu juga dengan pendidikan. Nilai-nilai yang relevan dengan hal yang bersifat spiritual dan emosional harus juga dipupuk dan dikembangkan dengan baik, tidak sekedar formalitas belaka. Dengan adanya niatan menjungjung tinggi nilai-nilai spiritual dan emosional dalam implementasinya bisa dijalankan dengan instumen-instrumen yang bisa dipilih dan dilaksanakan secara 'bebas' oleh pihak sekolah sebagai implementor dan pemerintah tentunya terus tetap menjadi pengawas dan pemberi arah. Instrumen-instrumen disini bisa dijadikan sebai ajang bagi para pendidik untuk meningkatkan kreatifitas dan inovasi agar para siswa bisa merasa betah dikelas dan tak ada lagi kata 'pemaksaan' terlintas dalam benak para siswa.

Suatu tindakan yang tidak bijak memang bila permasalahan ini diserahkan sepenuhnya kepada institusi formal seperti sektor pemerintah dan pihak sekolah saja, bagaimanapun pendidikan adalah tanggung jawab kita semua. Suatu proses tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, satu sama lain harus saling bahu membahu menggapai tujuan tersebut. Aspek lingkungan salah satunya. Keluarga atau orang tua siswa harus mampu mengawasi perilaku para anaknya saat berada diluar sekolah. Kita pun bisa ikut berkontribusi secara riil membantu proses menuju pendidikan yang ideal dengan cara mengawasi dalam kehidupan sehari-hari. Janganlah berdiam diri bila kita melihat penyimpangan yang terjadi, contohnya antara lain kita bisa memberikan informasi kepada sekolah yang bersangkutan apabila menyaksikan ada para siswanya yang sedang asyik jalan-jalan atau nongkrong diluar sekolah saat masih jam pelajaran.

Tak ada kata terlambat untuk berubah. Esensi pendidikan harus dikembalikan kepada jalan yang benar. Bilamana ada sesuatu yang salah dan tidak sesuai dalam dunia pendidikan di Indonesia baik itu secara sistem, regulasi ataupun dalam pelaksaannya dilapangan kita dituntut untuk tidak tiba-tiba berubah menjadi 'buta' dan 'tuli' menyaksikan dan mendengar realitas yang ada. Memang masih banyak permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan. Yang telah dipaparkan diatas mungkin hanya secuil dari keseluruhan jumlah permasalahan yang ada, tapi apapun itu bukan berarti kita berhenti untuk peduli terhadap pendidikan kan ?.

Tulisan ini sebelumya telah berkontribusi dalam rubrik tuisan web jalan remaja dan dipublikasikan di http://www.jalanremaja1208.org/detailtulisan.php?id=2 Read More......